Assalamualaikum, Bapa!
Bapa bagaimana kabar di sana? Aku
di sini baik-baik saja. Mama, Teteh, Aa pun baik-baik saja. Seharusnya. Tapi
kalau boleh jujur, selama lima tahun kehilangan Bapa, kami merasa tidak kokoh.
Ibaratkan bangunan yang pondasinya hilang satu. Kami terasa terombang-ambing.
Tak terasa ya, Pa. Hari ini adalah
anniversary Bapa ke-lima. Padahal baru kemarin aku membelikan Bapa mi
yamin. Kenangan terakhir itu tak ‘kan pernah aku lupa, Pa. Setidaknya, di saat
akhir-akhir itu aku sempat berbakti padamu. Walaupun seumur hidupku aku belum
bisa membanggakanmu.
Ada banyak yang terjadi pada kehidupan,
Pa. Ada banyak keresahan, kekacauan, suka, duka. Tapi Bapa tidak usah khawatir,
aku bisa mengatasinya. Rasanya sedih, Pa, mengetahui bahwa Bapa tidak
membersamaiku dari kelas sembilan. Buku rapot yang biasanya ditanda tangani
olehmu kini diisi Mama. Begitu pun pada kelas sepuluh, sebelas, dua belas, sampai
sekarang kuliah. Padahal aku ingin memamerkan beberapa piagam, piala, dan
medali itu padamu, Pa. Ya… walaupun beberapa hanya piagam honorable.
Pada beberapa tahun kemarin aku
mengalami masa-masa sulit, Pa. Karena kecerobohanku sendiri. Jika Bapa
melihatnya langsung, mungkin Bapa akan kecewa. Tapi demi apa pun aku tidak akan
mengulangi kesalahan yang sama. Bukan kah masih ada hal (kesalahan) lain yang
bisa dicoba? Hehe. Bercanda, Pa. Sejak kejadian itu aku berusaha untuk menjadi
diriku yang lebih baik. Berusaha mengurangi hal-hal yang tidak perlu.
Dan Bapa tau tidak, apa kesalahan
itu?
Aku bertemu dengan lelaki. Itu
saja. Satu kesalahan kecil yang membuatku kalah akan semua hal besar. Aku
mengecewakan diriku, mengecewakan semua orang. Hal itu membuatku bodoh. Pada
saat itu aku tidak mengetahui bagaimana cara kerja dunia pada dua orang manusia
ketika jatuh cinta. Dan aku hanya riding the wave. Ternyata gelombang
yang dia berikan tak membuatku aman nyaman. Wave itu malah membuatku
merasa jauh dari duniaku. Aku kehilangan diriku. Bayangkan, Pa. Aku tidak sadar
selama kurang lebih dua tahun. Dua tahun yang bodoh. Aku menghabiskan waktu dua
tahun hanya untuk menyenangkan orang lain dan memperbodoh diriku. Tapi setelah
itu aku sadar bahwa aku kehilangan diriku, aku mencoba masuk ke duniaku lagi. Sampai
saat ini aku menjadi diriku sendiri yang sesungguhnya, Pa. Itu semua karena aku
menyayangi Bapa.
Tak sampai di situ. Aku masih
belum menemukan diriku yang seutuhnya. Bukan. Bukan karena lelaki lagi. But I
don’t find my own style for life. Aku
belum tahu aku hidup untuk apa. Apa yang aku kejar. What I’m looking for? Aku
merasa terlalu lambat untuk mengejar ‘sesuatu’ yang aku inginkan. Di saat orang
lain sudah mulai mengejar ‘sesuatu’ itu, aku masih sibuk mencarinya. Apa yang
harus aku lakukan, Pa? Sungguh. Aku benci ketika ditanya “Kamu masuk jurusan
ini nanti kerjanya apa?” “Memang kamu mau kerja di mana?”. Pertanyaan macam apa
itu?! Aku pun tidak tahu mengapa aku hidup. Bahkan, aku tidak tahu jawaban dari
pertanyaan “Apa cita-citamu?”. Sekali pun itu saat kecil, aku tidak pernah konsisten
bercita-cita. Apa itu cita-cita? Cita-cita itu hanya angan-angan yang tidak
pernah realistis. Aku benci ‘cita-cita’.
Mungkin aku menjadi pasrah begini
karena aku sudah tertolak empat kali kampus impianku. Bapa, pada saat itu aku
mati-matian berjuang agar masuk institusi impianku. Tapi proses perjuangan itu malah
mati. Aku jadi lelah konyol. Hingga akhirnya aku masuk ke institusi last
choice. Padahal aku sudah memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan
mulai fokus untuk tahun depannya, tapi kata mereka tidak. Harus tahun ini. Dan
yang membuatku sakit hati adalah teman-temanku yang berhasil ke kampus impiannya
walaupun terlambat satu tahun.
Bapa, andaikan Engkau membaca
tulisan ini. Aku ingin bertanya. Lebih baik menggapai tujuan lebih cepat tapi
bukan target kita, atau menggapai tujuan yang target kita tapi lebih lambat?
Bapa.
Terima kasih, sudah menjadi Bapa
terbaik se-universe ini. In another life, I wanna be your daughter
again. And I wanna you be my father again. Till hundred, thousand life, I always
wanna you be my father again.

Komentar
Posting Komentar