Foto saya
Rain Qomar
Halo semua! Aku Rain Qomar. Blog ini menceritakan bagaimana kisah seorang apatis yang merasa hidupnya tak pernah selesai. Rasanya, hidup ini terasa sangat membosankan dan melelahkan. Ya, namanya juga hidup. Jangan tanya apa motivasiku menjalani hidup, aku hanya cukup bernafas dan menikmati bulan serta hujan. Itu saja. Blog ini tidak bermaksud mendoktrin kalian dengan dakwah sesatku, tulisan ini hanya curahan hati saja. Selamat membaca semuaa~

Dear, Bapa

Dengarkan lagu Ghost by Justin Bieber saat membaca blog ini.

Assalamualaikum, Bapa!

Bapa bagaimana kabar di sana? Aku di sini baik-baik saja. Mama, Teteh, Aa pun baik-baik saja. Seharusnya. Tapi kalau boleh jujur, selama lima tahun kehilangan Bapa, kami merasa tidak kokoh. Ibaratkan bangunan yang pondasinya hilang satu. Kami terasa terombang-ambing.

Tak terasa ya, Pa. Hari ini adalah anniversary Bapa ke-lima. Padahal baru kemarin aku membelikan Bapa mi yamin. Kenangan terakhir itu tak ‘kan pernah aku lupa, Pa. Setidaknya, di saat akhir-akhir itu aku sempat berbakti padamu. Walaupun seumur hidupku aku belum bisa membanggakanmu.

Ada banyak yang terjadi pada kehidupan, Pa. Ada banyak keresahan, kekacauan, suka, duka. Tapi Bapa tidak usah khawatir, aku bisa mengatasinya. Rasanya sedih, Pa, mengetahui bahwa Bapa tidak membersamaiku dari kelas sembilan. Buku rapot yang biasanya ditanda tangani olehmu kini diisi Mama. Begitu pun pada kelas sepuluh, sebelas, dua belas, sampai sekarang kuliah. Padahal aku ingin memamerkan beberapa piagam, piala, dan medali itu padamu, Pa. Ya… walaupun beberapa hanya piagam honorable.

Pada beberapa tahun kemarin aku mengalami masa-masa sulit, Pa. Karena kecerobohanku sendiri. Jika Bapa melihatnya langsung, mungkin Bapa akan kecewa. Tapi demi apa pun aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Bukan kah masih ada hal (kesalahan) lain yang bisa dicoba? Hehe. Bercanda, Pa. Sejak kejadian itu aku berusaha untuk menjadi diriku yang lebih baik. Berusaha mengurangi hal-hal yang tidak perlu.

Dan Bapa tau tidak, apa kesalahan itu?

Aku bertemu dengan lelaki. Itu saja. Satu kesalahan kecil yang membuatku kalah akan semua hal besar. Aku mengecewakan diriku, mengecewakan semua orang. Hal itu membuatku bodoh. Pada saat itu aku tidak mengetahui bagaimana cara kerja dunia pada dua orang manusia ketika jatuh cinta. Dan aku hanya riding the wave. Ternyata gelombang yang dia berikan tak membuatku aman nyaman. Wave itu malah membuatku merasa jauh dari duniaku. Aku kehilangan diriku. Bayangkan, Pa. Aku tidak sadar selama kurang lebih dua tahun. Dua tahun yang bodoh. Aku menghabiskan waktu dua tahun hanya untuk menyenangkan orang lain dan memperbodoh diriku. Tapi setelah itu aku sadar bahwa aku kehilangan diriku, aku mencoba masuk ke duniaku lagi. Sampai saat ini aku menjadi diriku sendiri yang sesungguhnya, Pa. Itu semua karena aku menyayangi Bapa.

Tak sampai di situ. Aku masih belum menemukan diriku yang seutuhnya. Bukan. Bukan karena lelaki lagi. But I don’t find  my own style for life. Aku belum tahu aku hidup untuk apa. Apa yang aku kejar. What I’m looking for? Aku merasa terlalu lambat untuk mengejar ‘sesuatu’ yang aku inginkan. Di saat orang lain sudah mulai mengejar ‘sesuatu’ itu, aku masih sibuk mencarinya. Apa yang harus aku lakukan, Pa? Sungguh. Aku benci ketika ditanya “Kamu masuk jurusan ini nanti kerjanya apa?” “Memang kamu mau kerja di mana?”. Pertanyaan macam apa itu?! Aku pun tidak tahu mengapa aku hidup. Bahkan, aku tidak tahu jawaban dari pertanyaan “Apa cita-citamu?”. Sekali pun itu saat kecil, aku tidak pernah konsisten bercita-cita. Apa itu cita-cita? Cita-cita itu hanya angan-angan yang tidak pernah realistis. Aku benci ‘cita-cita’.

Mungkin aku menjadi pasrah begini karena aku sudah tertolak empat kali kampus impianku. Bapa, pada saat itu aku mati-matian berjuang agar masuk institusi impianku. Tapi proses perjuangan itu malah mati. Aku jadi lelah konyol. Hingga akhirnya aku masuk ke institusi last choice. Padahal aku sudah memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu dan mulai fokus untuk tahun depannya, tapi kata mereka tidak. Harus tahun ini. Dan yang membuatku sakit hati adalah teman-temanku yang berhasil ke kampus impiannya walaupun terlambat satu tahun.

Bapa, andaikan Engkau membaca tulisan ini. Aku ingin bertanya. Lebih baik menggapai tujuan lebih cepat tapi bukan target kita, atau menggapai tujuan yang target kita tapi lebih lambat?

Bapa.

Terima kasih, sudah menjadi Bapa terbaik se-universe ini. In another life, I wanna be your daughter again. And I wanna you be my father again. Till hundred, thousand life, I always wanna you be my father again.


Komentar