Selamat Ulang Tahun.
Bulan November, bulan kelahiranku. Saat itu hari jumat. Hari ke-6 dalam seminggu. Sekitar pukul sebelas malam, bayi lahir di suatu kabupaten kecil. Sepertinya banyak hal yang akan diharapkan untuk anak itu. Entah itu harapan finansial, harapan kekuasaan, sampai harapan-harapan klise orang tua. Namaku diberikan dengan harapan bisa sejernih air. Karena, menurut budaya Jawa ada namanya Weton atau Primbon. Hari senin adalah bunga, selasa adalah api, rabu adalah daun, kamis adalah angin, jumat adalah air, sabtu adalah bumi, dan minggu adalah mega.
Di ulang tahun ini, banyak hal yang sudah aku lakukan. Tapi semuanya sepertinya sia-sia. Karena tidak ada wishlist yang aku rencanakan terealisasi. Banyak tangisnya daripada tawanya di tahun ini. Kadang aku berpikir, apakah aku masih pantas hidup. Motivasi hidupku saja tidak tahu apa. Lebih tepatnya tidak ada. Kini aku hidup hanya melanjutkan usia saja. Entah apa yang ingin aku capai. Semuanya terasa lelah dan wasting time.
Sedikit cerita. Aku memiliki cita-cita. Bisa menempuh pengetahuan di institut terbaik bangsa. Siapa yang tak ingin bersekolah di sana? Aku merasa sudah lelah mengejar. Tapi tetap saja, aku tertinggal jauh. Entah apa yang belum aku temukan, padahal aku merasa pantas masuk gerbang di sana. Orang-orang terlihat meremehkanku. Hanya aku yang percaya pada kekuatanku. Akhirnya aku kalah pada realita. Mereka benar, aku belum pantas mendapat hadiah itu.
Ada banyak orang pintar di dunia ini. Aku ingin menjadi salah satunya. Tapi aku wanita. Lemah. Bodoh. Kurus. Jelek. Tidak bisa diandalkan. Aku selalu berimajinasi. Menganggap diriku jenius seperti William James Sidis. Menemukan teknologi paling mutakhir sejagat raya. Alat terbarukan yang pasti berguna sepanjang waktu seperti gunting, sapu, lap, dan sebagainya. Kemudian mendapat hadiah penghargaan dari Yayasan Nobel seperti Marie Curie. Dia mendapatkan penghargaan Nobel di bidang fisika dan kimia di tahun yang berbeda. Atau Bertha von Suttner di bidang perdamaian.
Mereka adalah sepersekian persen dari seluruh wanita di dunia yang sangat amat jenius. Dapat mengalahkan fitrahnya yang katanya "pasti kembali ke dapur" menurut warga setempat di negeri ini. Dan juga fitrahnya yang mudah ter-distract yang memudahkannya untuk multitasking. Hatiku dengan keras berteriak ingin menjadi mereka. Tapi tubuhku menolak. Padahal aku kurus, tapi seakan bobot tubuhku sangat besar dan sulit untuk bangkit.
Ya. Aku terjebak di zona nyamanku.
Tulisan ini saja perlu beberapa hari, minggu, bahkan bulan untuk diketik dan di-upload. Tapi itulah yang membuat Tuhan tak memberikan restu kepadaku untuk bersekolah di institut terbaik bangsa. Aku hanya manusia biasa yang gila malas dan gila tidur tapi masih berharap banyak uang. Sedangkan mereka adalah manusia setengah setan yang memiliki obsesi terhadap pengetahuan. Mencoba hal-hal mustahil. Mencoba menjadi orang gila yang berusaha membangunkan singa di negeri ini.
Tapi lihat saja nanti. Aku akan hidup di dalam mimpiku sambil memegang teknologi buatanku yang sangat mutakhir itu.

Komentar
Posting Komentar